RSS

PERANG ACEH

05 Apr

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Aceh dikenal sebagai negeri yang tidak pernah dikalahkan oleh penjajahan Belanda. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa sifat perlawanan rakyat Aceh hanya ditentukan oleh faktor agama, agama islam melahirkan kaum yang militan, sehingga pemerintah colonial dangan berbagai cara membendung gerakan islamisasi ataupun pendidikan islam. Meskipun demikian, perlawanan terus ada. Dengan berbagai kekalahan Belanda, akhirnya Snouck mengambil kesimpulan bahwa sifat perlawanan rakyat Aceh bukan hanya masalah keyakinan agama tetapi juga masalah pra nasionalisme, hasrat kemerdekaan, serta perjuangan sosial terhadap para pemuka feudal. Inilah yang menjadi boomerang bagi pemerintah colonial sendiri dan menjadi kegagalan Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh.

Mungkin banyak orang tak tahu, perang di Aceh terjadi hingga empat kali. Perang pertama dimulai pada 1873, perang kedua pada 1874-1880, perang ketiga pada 1884-1896, dan terakhir pada 1898-1942. Perang pertama dan kedua bisa dibilang gagal total: Belanda tak menguasai peta dan realitas medan. Padahal, ketika itu, mereka mengerahkan 5.000 prajurit dan pekerja paksa serta 118 perwira. Ada juga soal teknis yang kedengaran sepele tapi berakibat fatal. Tentara Belanda ketika itu baru saja mengganti persenjataan.

Tadinya mereka menggunakan bedil lama, yang pelurunya diisi dari depan, lalu diganti bedil baru, Beaumont mereknya, yang pelurunya diisi dari belakang. Karena penggantian senjata dilakukan dekat menjelang ekspedisi ke Aceh, para prajurit kekurangan waktu berlatih. Kapal yang digunakan berlayar ke ujung Pulau Sumatera itu pun tak semuanya jempolan. Banyak kapal berusia lanjut, ketel uapnya bocor, terbatuk-batuk, toh dipaksakan mengarungi Samudra Hindia.

Dengan kegagalan dua perang menaklukkan Aceh, Belanda juga mencari strategi lain. Kebetulan, ketika itu, seorang sarjana Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, sedang melakukan penelitian di Pulau Jawa. Doktor teologi dan kesusastraan di Universitas Leiden ini menulis disertasi tentang kesusastraan semitis. Secara praktis ia ahli etnologi, sejarah agama, dan filologi. Ia pernah tinggal enam bulan di Mekah. Pada 1889, ia ke Hindia Belanda untuk mempelajari agama Islam. Ia segera direkrut menjadi penasihat pemerintah untuk bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam.

Pada Juni 1891, Snouck pergi ke Aceh dan menetap beberapa bulan di sana. Snouck berpendapat, untuk menghentikan perlawanan masyarakat Aceh, diperlukan kekuasaan yang sangat unggul, yang sanggup memberikan hak, bahkan kewajiban, kepada orang Aceh terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia Islam. Dengan kata lain, Snouck menganjurkan-dan ini disetujui oleh Van Heutsz, perwira militer yang kemudian menjadi gubernur jenderal pada 1904-1909-Aceh harus diperangi habis-habisan.

Laporan-laporan Snouck Hurgronje membuat pasukan Van Heutsz lebih percaya diri. Mereka jadi tahu seluk-beluk geografi setempat, adat istiadat masyarakat, serta soal ajaran agama yang dianut oleh “raja-raja biadab” (ces princes sauvages) tersebut. Pada 1898, kapal-kapal perang Belanda kembali membuka layar menuju Pulau Sumatera. Sayang, rasa percaya diri yang tinggi dan pengetahuan memadai tak cukup untuk menaklukkan Aceh.

Banyak korban jatuh di pihak Belanda. Belum lagi kerugian ekonomi akibat perang. Selama setengah abad bertarung dengan Aceh, lebih dari 100 ribu orang mati dan 500 juta gulden terbuang percuma. Pers di Batavia pun turut mencibiri kegagalan itu. Mengapa duet Van Heutsz-Snouck tak berjaya? Seorang mantan Gubernur Aceh yang juga bekas opsir militer, C. Deykerhoff, pernah menulis keraguan atas strategi yang dikembangkan Snouck.

Dari gambaran di atas, dapat ditarik beberapa permasalahan yang dapat diangkat yaitu:

  1. Bagaimana proses terjadinya peperangan antara rakyat Aceh dan penjajah Belanda khususnya pada Babak IV peperangan.
  2. Bagaimana gambaran perlawanan masyarakat Aceh terhadap penjajahan Belanda di masa itu.
  3. Bagaimana dampak positif perlawanan-perlawanan tersebut berakibat terhadap semangat juang masyarakat Aceh melawan Belanda.

 

1.2  Alasan Pemilihan Judul

Dalam penulisan ini adapun yang menjadi alasan bagi penulis memilih judul di atas yaitu :

  1. Penulis ingin mengetahui bagaimana perang panjang Aceh melawan Belanda  khususnya pada babak IV perang Aceh
  2. Penulis ingin mengetahui kaitan antara keempat babak dalam perang Aceh melawan Belanda.

 

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Ingin mengetahui mengetahui proses perang Aceh melawan Belanda pada Babak IV.
  2. Ingin mengungkapkan gambaran perlawanan masyarakat Aceh terhadap penjajahan Belanda di masa itu.
  3. Ingin mengetahui dampak positif perlawanan-perlawanan tersebut berakibat terhadap semangat juang masyarakat Aceh melawan Belanda.

 

 

1.4  Metode Penulisan

Dalam penelitian makalah ini penulis menggunakan metode sejarah (Notosusanto, 1978:11), yaitu heuristic, kritik dan interprestasi serta pengkisahan. Yang dimaksud dengan heuristic adalah pengumpulan dan pencarian sumber sejarah atau dokumen, dan isinya yang kemudian dikaji agar dapat dipercaya kebenarannya. Seleksi terhadap sumber tadi dilakukan dengan cara kritik intern maupun kritik ekstern, guna melahirkan suatu penulisan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, atau apa yang dikenal dengan sejarah analitis kritis. Lalu membuat interpretasi dan dilanjutkan dengan penyusunan atau pengisahan. Pendekatannya adalah dengan Library Research (Penelitian Kepustakaan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ASAL USUL PERANG DI ACEH

 

2.1 Sumber Daya Alam Sumatera

Sumatera adalah daerah yang selalu terjadi kerusuhan, tidak seorang pun yang menyangsikan bahwa Sumatera adalah pulau dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi yang tanpa diketahui. Maka tidak salah seorang Raffles yang mempunyai daya fantasi yang tinggi dan juga seorang Inggris yang begitu bernafsu masuk ke dalam rimba ini. Nafsunya timbul karena ingin balas dendam.  Pada tahun 1817, untuk menghibur hati karena kehilangan kekuasaannya terhadap Jawa, yang telah dikembalikan  Inggris bersama dengan sisa wilayah kompeni lama kepada Belanda, dia diangkat menjadi gubernur Bengkulu. Bagian Sumatera yang tidak berarti ini memang sudah sejak dulu diakui sebagai milik Inggris. Tapi benteng Marlborough tidaklah sampai begitu ambruk , karena dapat digunakan Raffles markas besar. Dan dari sini mulai nyatalah tuntutan Inggris yang tidak berdasar atas bagian-bagian Sumatera yang lain dan atas pulau-pulau di sekitarnya. Selat Malaka dan Selat Sunda, satu-satunya jalan laut antara Asia Selatan dan Asia Timur, harus aman berada dalam tangan Inggris.

Perdagangan berkembang pesat di Indonesia/Hindia, hingga terciptalah pusat perbelanjaan bebas dalam suatu wilayah yang penuh dengan monopoli dan cukai-cukai istimewa. Raffles membujuk para pengusaha Inggris dari Madras dan Bombay untuk bermukim di Singapura. Orang-orang Cina banyak berdatangan dengan sendirinya.

Ketika pada tahun 1824, Belanda dan Inggris dalam traktat London menyelesaikan semua persengketaan akibat serah terima jajahan tahun 1816, Bengkulu pun ditukar dengan pangkalan Kompeni Belanda, yaitu Malaka yang sudah hancur. Inggris melepaskan semua tuntutannya kepada Sumatera, Raffles kehilangan jabatan pemerintahannya yang terakhir dan kembali ke Inggris. Pemerintah di Den Haag telah berjanji bahwa dalam usaha perluasaan kekuasaan selanjutnya di Sumatera tidak akan mengusik kemerdekaan Aceh.

Hindia merupakan petualangan bagi setiap orang Eropa yang muncul di sini. Pulau- pulau raksasa Sumatera dan Kalimantan, tanpa menyebut ribuan pulau kecil, masih seluruhnya terhampar dalam suasananya sendiri. Tuntutan-tuntutan Belanda masih masih samara-samar dan akan tetap akan samar-samar sepanjang abad. Sebagai besar “Hindia Belanda”, yang lebih merupakan kupulan daripada pengertian ketatanegaraan, dianggap sebagai semacam lingkungan pengaruh yang terhadapnya Belanda tidak memiliki kedaulatan. Pemerintahan yang silih berganti di Hindia Belanda dan di Negara Belanda tidak ada keinginana lagi untuk menambah pekerjaan yang cukup banyak. Menteri jajahan James Loudon pada tanggal 8 Juni 1861 menulis kepada Gubernur Jenderal C.F. Pahud ketika timbul lagi kesulitan-kesulitan di Sumatera.

Terlalu banyak yang hendak digarap Negeri Belanda di luar batas kemampuannya. Hasil-hasil pedapatan yang banyak diperoleh dari Tanam Paksa gi Jawa senantiasa terancam oleh ekspedisis-ekspedisi militer di Tanah Seberang yang banyak sekali memakan biaya. Dengan Singapura Raffles telah membuktikan dapat memangfaatkan situasi ketatanegaraan yang suram di sebagian besar kepulauan Hindia. Dengan bertindak menggeretak para atasan dan pemerintahannya, Inggris jadi menyokongnya. Dia tidak menginginkan kerajaan sendiri dalam Rimba.

Dari semua peristiwa ini para raja Indonesia suka menggunakan petualangan-petualangan Eropa (kadang-kadanga orang Amerika, seperti di Jambi sekitar tahun 1850) karena dalam perjuangan kekuasaan dengan tetangga mereka suatu keunggulan yang kecil dapat menentukan.

Dalam menghadapi Negara-negara Kolonial para Sultan dan saingan mereka mengikuti taktik yang sama seperti nenek moyang mereka dan dengan akibat-akibat bencana yang sama menimpa mereka. Mereka berusaha mengadu Inggris dengan Belanda agar saling memerangi, dan kalau mungkin beberapa Negara lain lagi di Asia yang berminat: Turki, pelindung kekhalifahan dunia Islam, Amerika, Spanyol, Italia.

2.2 Bagaimana Orang Membuat Perang

Adanya keterangan Teuku Muhammad Arifin kepada Read tentang penghianatan Singapura menyebabkan pecahnya perang. Read merupakan seorang penuntun Raja Siam Tsyulalongkorn. Dia juga seorang pebisnis yang berhubungan antara Siam-Singapura dan seorang konsul Kerajaan Belanda di Singapura. Arifin yang masih berhubungan dengan Sultan Trengganu, seorang raja taklukkan Siam di Semenanjung Malaka bertemu dengan Read di Singapura. Setelah pertemuan itu baik Arifin maupun William Read, mereka berdua saling bertukar pikiran dan informasi berbagai hal termasuk mengenai Aceh.

Arifin pun mulai mencari hal-hal baru termasuk dalam hal relasi. Setelah mendengar kabar bahwa Amerika berminat membuat pangkalan armada di Kalimantan Utara, dia pun menawarkan jasa-jasanya kepada konsul Amerika yakni Studer. Dengan kecerdikannya, Studerpun akhirnya menjadi salah satu koleganya. Dalam suatu pembicaraan, Studer mengatakan bahwa telah terjadi insiden internasional yang merupakan suatu rahasia penting. Hal ini menjadikan Studer menjadi kambing hitam karena telah membocorkan rahasia Negara baik pemerintah Belanda maupun Washington.

Namun hal itu berbanding terbalik dengan Arifin. Suatu saat menteri luar negeri Belanda Gericke van Herwijnen menerima surat rahasia yang bertujuan untuk mencari penyelesain damai dengan Amerika berkaitan bocornya informasi oleh Studer. Hal ini dikarenakan agar Aceh dapat dicegah dari kekuasaan Amerika namun, tentu saja dengan jalan damai. Pada saat itulah Arifin ditunjuk untuk menjadi suatu penyelidik keadaan Aceh. Dia dianggap memiliki pengetahuan tentang Aceh dan hal ini di harapkan bisa membawa penyelesaian untuk mewujudkan perdamaian. Arifin juga mencatat berperan penting dalam peletakan dasar suatu perjanjan yang akan disusun di Aceh yang kemudian disahkan oleh Sultan dan kemudian dibawa ke konsul yang akan menyampaikannya kepada Washington.

Dalam keadaan selanjutnya, Arifin dibayar oleh Read untuk mengatakan berbagai informasi tentang Aceh. Hal inikemudian menjadi suatu sandungan bagi Arifin sehingga dia dibuang oleh pemerintah Belanda dan kemudian menjadikan Read sebgai pahlawan. Read dapat mengkamuflase fakta bahwa Arifin melakukan suatu penghianatan. Namun, tetap saja tujuan Read adalah demi meraih kepentingan pribadi. Hal ini dibuktikan dengan setelah pengangkatannya dipemerintahan Hindia-Belanda, Read melakukan penyimpangan yang berujung menjadi kesalahan pemerintah Hindia-Belanda hingga meletusnya Perang Aceh.

Perang Aceh sangat memberatkan tanggungan Hindia. Karena menelan banyak korban manusia dan sarana, sesudah tahun1873 setiap kemajuan tertahan lama. Titik berat urusan Hindia berpindah ke Het Plein (lapangan), kementerian jajahan, yang berkat sarana perhubungan yang lebih baik lebih dapat mengendalikan kebijaksanaan atas seberang lautan.

Pada tahun 1876, kekuatan pasukan di Aceh rata-rata terdiri dari tiga ribu orang prajurit eropa, lima ribu prajurit Indonesia dan 180 orang prajurit Afrika. Pada masa itu. Habib Abdurrahman turut mengubah keadaan-keadaan pasukan Aceh yang sewaktu-waktu bertindak liar, menjadi lebih beroperasi secara teratur. Dalam pengadaan pasukan, Abdurrahman mendapat bantuan dari kelompok agama. Tengku di Tiro yang tersohor tersebut mewakili kelompok agama beserta pengikutnya, turut bergabung dengan Abdurrahman.

Belanda pun muncul melancarkan serangannya. Kali ini, ekspedisi dipimpin oleh Van der Heijden dengan tiga ribu pasukannya beserta sepuluh kapal perang. Daerah yang dipimpin oleh Sagi Mukim XXV menjadi wilayah pertama yang ditaklukkan Belanda. Beberapa petempuran pun menyusup hingga ke pedalaman. Hal ini terus berlangsung hingga tanggal 25 Agustus 1878, tiga orang utusan Habib Abdurrahman dengan permohonan ampun dan meminta perundingan penyerahan di pos Belanda Lam Baro. Belanda pun mulai meminta pemuka-pemuka Aceh agar menyerah. Namun semuanya sia-sia. Bahkan para pemuka tersebut menuding bahwa Abdurrahman melakukan pengkhianatan.

Menyerahnya Abdurrahman tidak diikuti oleh pemuka-pemuka lain secara bersamaan. Pemimpin perlawanan tersebut adalah Tengku di Tiro, Panglima Polim dan imam Leung Bata. Suatu gerakan dengan tiga ribu orang, Belanda mengakhiri operasi perlawanan ini. Penghukuman yang tiada taranya telah berhasil. Perangpun telah usai. Namun dari semua itu menyisakan bahwa pada kenyataannya rakyat menjadi dendam dan negeri musnah dihancurkan Belanda serta harus ditaburi dengan sangkur demi mempertahankan bagian relatif kecil yang telah direbut.

2.3 Pertikaian Saudara

Van der Heijden diangkat menjadi Letnan Jenderal di bulan januari 1880, kemudian dia mendapat surat aneh yang kasar dari Gubernur Jenderal Van Landsberge yang amat menginginkan Heijden turun dari jabatannya dan mengajukan permintaan berhenti. Bersama dengan A. Pruys (residen Palembang) diangkat menjadi komisaris untuk penyusunan kembali pemerintahan di Aceh. Van Landsberge amat berkeinginan untuk memberikan tekanan agar Heijden berhenti, pada bulan November ia pun mengutus anggota dewan Hindia Mr. J. T. Derkinderen dengan tugas yang sangat sulit ke Aceh

Van der Heijden dinyatakan bertanggung jawab untuk 3 pengaduan terhadap orang-orang bawahan. Mereka telah diperiksa Jaksa Agung Batavia, (1) Syahbandar Olehleh, yang telah menjadi pelabuhan ramai dan kini menjadi dermaga samudra yang hebat, telah mengenakan pungutan liar atas barang-barang swasta yang masuk; (2) Kepala kantor pos Kutaraja menderita kerugianan kas lebih dari 10.000 gulden, kedua kasus ini diketahui, malah Heijden telah menskors orang-orang yang bersalah pada pertengahan 1880.

Konflik pun terjadi, antara Derkinderen dan Heijden yaitu dua orang bersaudara sesama anggota, sesama penganut teosofi berhadapan. Dalam surat-suratnya kepada Derkinderen, Van der Heijden sangat menyesali mengapa ia mengalami perlakuan demikian justru dari seorang saudara. Banyak yang membicarakan pertentangan ini. Sebelum tahun-tahun akhir Van der Heijden, keadaan di Aceh berangsur-angsur berubah sama sekali. Ada pendekatan dari kalangan hulubalang di daerah Hilir (sagi-sagi mukim XXVI dan mukim XXV) yang menerima gaji, tunjangan dari dia – ini benar.

Pemimpin-pemimpin perang yang baru di satu pihak seorang tokoh seperti ulama Teungku di Tiro dari Pidie, yang tegar dan fanatic, serta di pihak lain Teuku Umar yang tidak punya Negeri, liberal tetapi sama fanatic, tampaknya cepat memperoleh tenaga tempur. Selama tahun 1883, tampaknya perang akan pecah lagi dengan hebat. Hal ini merupakan kekecewaan besar bagi Gubernur Jenderal s’Jacob, yang mengunjungi Aceh pada bulan Agustus untuk menyelidiki apakah dengan penyusutan kekuatan pasukan Belanda tidak dapat dilakukan pengurangan biaya perang secara drastic. Sebenarnya hal ini sudah dibayangkan Van Landsberge. Di Negeri Belanda tampil suatu cabinet yang bercorak konservatif dan liberal kanan pada bulan April. Menteri jajahan baru F.G. van Bloemen Wanders, seperti juga semua menteri lainnya, yang menanggulangi portefeuille (dan sejak tahun 1873 jumlahnya delapan), mempunyai pandangan pribadi untuk mengakhiri perang. Sebagai bekas pejabat Hindia, bekas direktur dalam negeri (BB), dia melihat kemungkinan-kemungkinan untuk memulihkan kesultanan di bawah pimpinan Belanda sama halnya seperti yang dilakukan pada Kerajaan-kerajaan di Jawa, Siak, dan di tempat lain.

Selama Perang Aceh, perkembangan di Hindia Belanda mandek, seperti ternyata dari angka-angka, tidak saja karena perang, tetapi memang terutama karena perang yang menelan anggaran belanja begitu besar. Inilah gadai yang dipertaruhkan Perang Aceh atas koloni Belanda. Jawa yang membayar perang! Tidak ada suatu kemajuan ekonomi ata politik berarti pun yang dapat dilaksanakan sebelum gadai ini tertebus sebagian.

Pada bulan November 1883 menteri jajahan Van Bloemen Waanders berhenti. Itu akibat konflik berlarut yang dalam cabinet sebelumnya sudah juga sempat mengorbankan seorang menteri. Ada perbedaan pendapat antara Parlemen dan Gubernur Jenderal s’Jacob mengenai persoalan apakah ia berhak bertindak sendiri untuk memperpanjang kontrak dengan Billiton Maatschappij. Pertikaian itu terselesaikan dengan  mengorbankan menteri jajahan, karena, bagaimanapun, seorang Gubernur Jenderal tidak bisa dipaksa untuk berhenti.

Pada 26 november, Menteri Pertahanan Jenderal A.W.P. Weitzel, pengetahuannya tentang soal-soal jajahan terbatas pada masa lima tahun ketika ia menjadi perwira Hindia, 25 tahun yang lalu. Dia memiliki keahlian lain, sejak dia mempertahankan suatu rancangan undang-undang tentang system benteng, dia menjadi ahli perbentengan. Weitzel berpendapat bahwa siasat yang dijalankan di Aceh harus lain sekali daripada dengan apa yang telah dilakukan.  

BAB III

PERANG ACEH DAN BELANDA: BABAK KEEMPAT

 

Periodisasi perang aceh ke empat dimulai sejak tahun 1898-1942. Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh, kisah kegagalan Snouck Hurgronje membagi menjadi beberapa sub bab untuk periode ini.

3.1    Panik di Negeri Belanda

Teuku Umar yang gagah berani dalam medan pertempuran malah berbalik menyerang Belanda. Bahkan Teuku Umar sempat mengepung Kutaraja (Banda Aceh sekarang) bersama 2000 pasukannya untuk menyerang Belanda. Bahkan di negeri Belanda sendiri diciptakan lagu hujatan kepada Tengku Umar. Maka timbulah suatu tahapan baru di Aceh yang dikenal dengan Perang Aceh Keempat, sekaligus mengandung unsure produk colonial yang baru, yaitu minyak tanah.

Malaise ekonomi yang berkepanjangan yang bermula pada krisis gula tahun 1884 sudah berakhir. Meskipun harga-harga hasil bumi masih rendah, tapi muncul satu produk tambang yang banyak memberi harapan. Produk ini sangat termasyur sebagai obat terhadap segala macam penyakit, yaitu minyak tanah. Pengeboran pertama dilakukan di Deli, kemudian setelah mengeksploitasi secara besar-besaran mereka meneruskannya di negeri-negeri pantai Aceh, seperti Tamiang, Langsa dan Perlak. Dengan adanya eksploitasi besar-besaran maka ekspedisi militer diperlukan untuk menjaga atau melindungi kilang minyak yang sering harus bertempur dengan penduduk. Tahun 1900 banyak perusahaan asing (eropa) yang melakukan eksploitasi minyak di Aceh. Tapi upaya penanaman modal asing ini tidak diimbangi dengan UU yang jelas mengaturnya. Akibatnya Hindia Belanda mendapat kerugian akibat tidak memperoleh bagian dari hasil pertambangan kecuali hanya dari pajak yang besarnya 4% dari pendapatan bersih, apalagi perusahaan pertambangan baru dibebaskan dari bea selama tiga tahun. Ketika Van Heutsz diangkat menjadi gubernur jenderal minyak pada tahun 1903, maka ia mengubah UU pertambangan yang isinya menaikan pajak dan mengadakan kontrak ekonomi dengan perusahaan kilang minyak. Dengan cara ini pendapatan Belanda manjadi naik. Tapi tidak dengan keadaan kesejahteraan rakyat aceh yang tetap tertinggal.

3.2    Akhir riwayat Teuku Umar

“Pengkhianatan” Teuku Umar menyebabkan belanda menjadi marah, apalagi ditambah dengan serangan-serangan dari Teuku Umar sendiri. Hal ini mengakibatkan Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap kamp-kamp pertahanan penduduk Aceh yang dikenal sebagai penghukuman dilembah sungai Aceh. Akibatnya penduduk mengungsi dan tidak ada alas an untuk kembali karena rumah, sawah dan desa mereka telah dibakar oleh Belanda dengan peperangan yang sangat brutal disertai pembunuhan masal. Atas usul Snouck, Van Heutsz melakukan penyerangan ke daerah Pidie yang disinyalir terdapat pemberontak Aceh. Salah satu jasa Van Heutsz yang terbesar adalah dengan meningkatkan daya guna NIL (pasukan belanda).

Pasukan marsose disiapkan dengan peralatan pribadi tanpa membawa baterai meriam atau barisan furase. Selain itu Van Heutsz mengeluarkan kebijakan untuk tidak membakar kampong, masjid dan rumah tinggal dalam keadaan bagaimanapun. Pada 1899 Teuku Umar meninggal di Meulaboh akibat serangan dari Belanda. Tapi istri Teuku Umar, Cut Nya Din mengambil estafet perjuangan istrinya dan terus melakukan perlawanan terhadap belanda.

Aksi-aksi utama daerah taklukan Aceh baru dilancarkan setelah tahun 1899. dibawah pimpinan Van Heutsz serta didampingi Snouck Hurgronje mereka melaksanakan aksi besar-besaran menjelajahi negeri pantai timur dan barat. Dalam perjalanannya, mereka banyak mendapat perlawanan dari rakyar Aceh. Berdasarkan analisis Snouck Hurgronje, sifat perlawanan rakyat bukan hanya masalah keyakinan agama tetapi juga masalah pra nasionalisme, hasrat kemerdekaan, serta perjuangan sosial terhadap para pemuka feudal.

Masa Van Heutsz menjabat diaceh adalah dari tahun 1899-1909. pada masa ini merupakan masa 10 tahun yang berdarah bagi Aceh. Jumlah tentara Belanda yang tewas sekitar 508 orang, tapi dari tahun 1899-1909 jumlah orang Aceh yang terbunuh sekitar 21865 orang, hamper 4% dari jumlah penduduk. Terlepas dari ini, perang kecil Aceh sesudah 1900 meminta korban hampir sama dengan perang besar sebelum 1900. ini disebabkan karena taktik dalam peperangan telah berubah menjadi gerilya yang sering terjadi kontak dengan musuh.

Dari tanggal 8 februari sampai dengan 23 Juli 1914 dibawah perintah Letkol GCE Van Daalen, suatu kolone marsose mengadakan perjalanan melalui tanah Gayo dan Alas. Pertempuran di gayo dan Alas ini memakan korban yang sangat besar. Orang-orang Gayo telah siap menyambut pasukan marsose yang datang ke kampungnya dengan pakaian serba putih menandakan mereka siap untuk mati. Dalam perlawananpun mereka hanya menggunakan senjata pukul dengan bedil lantak tua yang tidak sebanding dengan persenjataan pasukan marsose, sehingga dalam waktu yang sekejap mereka berhasil ditumpas.

Pada masa jabatan gubernur Jenderal Van Heutsz, beberapa kebijakan modernisasi diambil walaupun sudah sangat terlambat. Kebijakan itu telah menggusarkan para pangreh praja karena “edaran tata hormatnya”. Cara memberi hormat rakyat Indonesia dengan merangkak-rangkak terhadap para pejabat pemerintah dilarang. Ada yang menyebutkan bahwa kebijakan ini diambil karena perasaan iri hati perwira terhadap kalangan pangreh praja yang jauh lebih terhormat. Dalam aspek penyelenggaraan pemerintahannya, ia telah mendapat nasihat dari Snouck Hurgronje mengenai suatu “politik asosiasi” sebagai persiapan untuk Indonesia yang akan berdiri sendiri. Menurutnya bahwa orang bumi putera (Indonesia) berdasarkan sifat-sifat bangsa dan lingkungan tidak memiliki kemampuan untuk memegang jabatan-jabatan pemerintahan yang tinggi. Dia ingin agar jumlah pejabat pemerintah orang eropa dikurangi dan pangreh praja bumiputera berangsur-angsur diberi kekuasaan pemerintahan yang nyata. Tapi pendapat ini ditentang oleh menteri Idenburg, ia berpendapat bahwa bahwa seorang residen sesungguhnya ialah wakil Negara induk sehingga ia tidak dapat di gantikan oleh orang bumiputera.

Wekker ialah mantan perwira marsose tentara Hindia Belanda. Ia menulis sebuah artikel yang diterbitkan di negeri Belanda yang isinya menceritakan tentang bagaimana orang-orang belanda menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di aceh. Ia menyebutkan bagaimana para wanita dan anak-anak ditembak mati . menurut Wekker adalah makin banyak orang yang mati maka makin baik sang perwira yang bertugas disana. Wekker adalah WA van Oorschot, seorang mantan letnan yang bekerja di aceh. Karena tulisan-tulisan yang mempropokasi itu, maka ia dijebloskan ke pengadilan militer oleh Van Daalen karena tuduhan pembunuhan masal di Aceh. Tetapi kasus ini secara pengedilah militer tetap diusut dengan menghadirkan saksi-saksi yang ada, tapi sampai kepergian Belanda dari Aceh para tersangka tidak pernah dijebloskan ke penjara.

3.3 Belanda Mundur dari Aceh

Perang aceh tidaklah berakhir pada 1913 atau 1914. dari tahun 1914 telah terjadi banyak pemberontakan yang sekalipun dapat dipadamkan tapi merupakan tanda bahwa aceh masih menganggap Belanda musuh. Tapi berbeda dengan pendapat Residen Jongejans yang menganggap bahwa aceh sudah mulai percaya pada Belanda. Ini disebabkan karena Gubernur Jenderal yang baru telah menghapuskan vandalisme serta pemberian hadiah atau janji-janji kepada para hulubalang serta rakyat aceh. Meskipun demikian, banyak para pemberontak yang tetap melakukan pemberontakan dan pembunuhan terhadap orang-orang eropa.

Aceh memang sudah ditaklukkan, tapi sama sekali belum diamankan, perlawanan masih terus ada, ungkap Kern. Pada 12 maret 1942 pasukan Jepang mendarat di Aceh, mereka terus menggempur pasukan Belanda yang masih tersisa, akhirnya pada 28 maret 1942, tiga minggu setelah Jawa menyerah ke Jepang, Jenderal Overakker menyatakan takluk. Aceh merupakan wilayah terakhir yang dimasukan ke dalam territorial wilayah Belanda, Aceh juga yang pertama kali keluar dari pemerintahan Belanda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Dari berbagai paparan yang dikemukakan dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan. Dalam menghadapi Negara-negara Kolonial para Sultan dan saingan mereka mengikuti taktik yang sama seperti nenek moyang mereka dan dengan akibat-akibat bencana yang sama menimpa mereka. Mereka berusaha mengadu Inggris dengan Belanda agar saling memerangi, dan kalau mungkin beberapa Negara lain lagi di Asia yang berminat: Turki, pelindung kekhalifahan dunia Islam, Amerika, Spanyol, Italia.

Aceh memang sudah ditaklukkan, tapi sama sekali belum diamankan, perlawanan masih terus ada, ungkap Kern. Pada 12 maret 1942 pasukan Jepang mendarat di Aceh, mereka terus menggempur pasukan Belanda yang masih tersisa, akhirnya pada 28 maret 1942, tiga minggu setelah Jawa menyerah ke Jepang, Jenderal Overakker menyatakan takluk.

Aceh merupakan wilayah terakhir yang dimasukan ke dalam territorial wilayah Belanda, Aceh juga yang pertama kali keluar dari pemerintahan Belanda.

4.2 Saran

Diharapkan kepada masyarakat Aceh untuk terus mengenang sejarah tentang bagaimana sulitnya memperjuangkan kemanan dan kenyamanan tinggal di wilayah Aceh. Masyarakat Aceh tidak boleh larut dalam kebanggaan telah mengusir penjajah namun tetap harus mawas diri agar penjajahan dalam bentuk lain seperti kebodohan dan kemiskinan tidak terjadi di bumi Serambi Mekkah.

SUMBER:

Alfian, Ibrahim (1992). Sastra perang: sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil. Balai Pustaka. p. 248

Banda Aceh (Indonesia) (1998). Kota Banda Aceh hampir 1000 tahun. Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh.

Ricklefs, M. C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300, Second Edition. MacMillan.

Veer, Paul V. (1985). Perang Aceh – Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Jakarta: PT Grafiti Pers

West, Barbara A. (2009). Facts on File library of world history, Encyclopedia of the peoples of Asia and Oceania, Vol. 2. Facts On File, University of California. p. 1002.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2013 in MAKALAH

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 721 other followers